Jawaban jujur tentang cara menumbuhkan anak yang cinta membaca hampir terlalu sederhana untuk dipercaya: anak menjadi pembaca saat mereka jatuh cinta pada buku lebih dulu, baru kemudian menjadi mahir — bukan sebaliknya. Latihan mengeja dan kartu kata memang bisa mengajari anak memecah kata, tapi jarang sekali melahirkan seorang pembaca sejati. Anak yang merengek minta "satu halaman lagi" itulah yang masih asyik membaca di usia lima belas tahun nanti. Jadi, tugas Anda di rumah sebenarnya bukan mengajar; melainkan menjadikan buku sebagai bagian paling hangat dan paling dinanti sepanjang hari.
Alasannya sederhana saja. Membaca adalah kebiasaan sebelum menjadi keterampilan, dan kebiasaan tumbuh dari pengulangan serta perasaan yang menyenangkan, bukan dari tekanan. Ketika membaca terasa aman, nyaman, dan menjadi pilihan sendiri, otak anak diam-diam menyimpannya di laci "hal-hal yang aku suka." Tapi kalau terasa seperti ujian harian, membaca akan tersimpan di laci "hal-hal yang harus kuhadapi." Semua kebiasaan membaca anak di bawah ini sebenarnya hanyalah cara untuk tetap berada di sisi yang benar dari garis itu.
Lima kebiasaan kecil setiap hari yang menumbuhkan pembaca
Pertama, biarkan anak memilih bukunya sendiri — meski itu buku yang sama untuk malam ke-seratus. Pengulangan adalah cara otak kecil menguasai sebuah cerita: kata-katanya jadi mudah ditebak, anak mulai "membaca" dari ingatan, dan rasa lancar untuk pertama kalinya itu terasa luar biasa menyenangkan. Memberi pilihan juga mengajarkan mereka bahwa buku adalah milik mereka, bukan cuma milik sekolah.
Kedua, singkat saja tapi setiap hari. Sepuluh menit yang santai setiap malam jauh lebih berarti daripada satu jam sekali seminggu, karena rutinitas membaca sebelum tidur justru berhasil karena sudah dinanti. Tempelkan pada sesuatu yang memang selalu terjadi — sikat gigi, ganti piyama, lampu diredupkan, lalu buku — supaya Anda tak perlu lagi bernegosiasi tiap malam soal jadi atau tidaknya membaca.
Ketiga, jadikan momen itu paling nyaman sepanjang hari. Redupkan lampu, tarik selimut, biarkan anak bersandar di pelukan Anda. Anda ingin tubuh anak mengaitkan buku dengan kehangatan dan kedekatan, sehingga rasa dibacakan cerita menjadi sesuatu yang mereka cari sepanjang hidupnya.
Keempat, berhentilah selagi mereka masih ingin lebih. Memang menggoda untuk melanjutkan satu bab lagi saat anak sedang menikmati, tapi menyisakan sedikit rasa penasaran justru yang akan menariknya kembali ke buku itu esok hari. Berhentilah di bagian yang menggantung, tutup bukunya, dan biarkan rasa penasaran itu yang bekerja.
Kelima, biarkan mereka memergoki Anda sedang membaca. Anak meniru apa yang kita lakukan jauh lebih kuat daripada apa yang kita ucapkan, jadi orang tua yang asyik dengan bukunya sendiri — ponsel ditelungkupkan — adalah salah satu pelajaran membaca yang paling meyakinkan. Sesekali, ucapkan dengan lantang: "Aku sudah tak sabar ingin melanjutkan bukuku nanti malam."
Kesalahan umum yang justru membuat anak enggan
Kalau Anda pernah mengetik "cara agar anak mau membaca" di kolom pencarian pukul 9 malam, Anda mungkin disuruh melatihnya lebih keras lagi. Biasanya justru kebalikannyalah yang menolong. Cara tercepat membuat anak enggan adalah mengubah setiap halaman menjadi kuis — menghentikan cerita di tengah jalan untuk menanyakan bunyi sebuah huruf, atau mengoreksi setiap salah ucap kecil. Itu menyeret membaca keluar dari kolom "kesenangan" dan memindahkannya ke kolom "tugas." Mengobrol soal ceritanya sih silakan saja — "menurutmu kenapa ya dia melakukan itu?" — tapi simpan latihan mengejanya untuk waktu lain. Menjelang tidur, biarkan buku menjadi sekadar cerita.
Tips literasi dini yang bisa dimulai malam ini
Anda tidak butuh program khusus atau rak penuh buku berjenjang. Hanya segelintir tips literasi dini yang memikul hampir seluruh bebannya: bacakan dengan suara keras setiap hari, sesekali telusuri kata-katanya dengan jari agar tulisan dan bunyi saling terhubung, tunjukkan huruf dan tanda-tanda di dunia nyata, dan ajak anak mengobrol tentang gambar sama seringnya dengan teksnya. Tak satu pun terlihat seperti mengajar, padahal semuanya memang mengajar.
Malam ini, coba urutan ini persis. Satu, biarkan anak memilih bukunya, tanpa veto. Dua, bacakan sesuai gaya yang mereka mau — lengkap dengan suara-suara konyol. Tiga, berhentilah sejenak di halaman favorit lalu bertanya-tanyalah dengan lantang: "Menurutmu, apa ya yang terjadi selanjutnya?" Empat, berhentilah satu-dua halaman sebelum mereka siap berhenti, lalu janjikan sisanya besok. Lakukan itu di sebagian besar malam, dan tanpa disadari, Anda sedang menumbuhkan seorang pembaca.
Pada sebagian malam, cerita juga bisa diselipi sedikit belajar — aplikasi yang dinikmati bersama seperti KAVI bisa menyulap lima menit menjadi permainan yang justru diminta anak — tapi itu takkan pernah mengalahkan suara Anda, pangkuan Anda, dan buku kesayangan yang sama, yang dipilih lagi dan lagi. Jaga kebiasaan ini tetap mungil, lakukan setiap hari, dan biarkan rasa cinta datang lebih dulu.

